Tuesday, November 21, 2017
Kali ini
Kali ini dari ujung saraf mimpi.
Aku mengingat mu lagi.
Kali ini dari ujung haru hati.
Aku merindukanmu lagi.
Kali ini dari ujung jejak airmata.
Kali ini kita tak akan sua.
Kali ini kita hanya bicara.
Kali ini kita tak akan jumpa.
Kali ini kita hanya umpama.
Sunday, September 3, 2017
Gerutu Rindu
yang berjalan terlalu cepat,
pada awan - awan senja
mengikis memori yang merusak asa
merasuki rindu, racuni jiwa.
menitik perlahan pada hujan cinta
membunuh logika di detik yang berkepanjangan
aku merajuk lagi pada waktu
yang berjalan terlalu lambat
pada awan - awan kelabu
mengikis hati yang pecah
merasuki kata - kata hampa
menitik perlahan pada hujan mimpi
membunuh fikir di detik yang semakin perih
aku, kamu, dan semuanya
pada akhirnya perlahan menghilang
penuh sendu dan luka
penuh rasa dan impian
Tuesday, June 20, 2017
Milikmu
Atau genggam hangatmu,
Pada memori tentang senyum mu,
Atau bayangan mata indahmu.
Tahukah detak ini hanya milik mu?
Bahkan hela nafasku berujar nama mu.
Jadi ampuni aku, kasihku.
Beri jeda pada pilu,
Atau rasa penuh lara menusuk.
Berdirilah disisiku,
Atau rengut saja jantungku.
Toh, hatiku sudah milik mu.
Kau tahu?
Aku milikmu.
Friday, June 16, 2017
Berhenti
Hati ku?
Cinta ku?
atau dunia ini?
yang bagimu tak pernah adil,
yang bagiku selalu pilu,
yang bagi mereka semu.
Kali ini mau kau rutuk apa lagi?
Mimpi mu?
Harapan mu?
atau Fatamorgana ini?
yang bagimu tak pernah usai,
yang bagiku nyata,
yang bagi mereka surga.
Kawan,
Tak ada lagi yang kita nantikan,
Tak ada lagi yang kita tuju,
Berhenti! kataku.
aku telah lelah berlari.
aku telah lelah palsu.
kau, aku, mereka.
kita semua lelah.
apalagi yang kau nanti?
lantas pada tiap pemikiran rancu mu,
lagi - lagi kau jejalkan mimpi kosong.
lantas pada tiap harapan bau kencur mereka,
lagi - lagi kau lukis sayap patah.
Berhenti, ayo berhenti.
Percuma.
Namun kau tak pernah berpaling.
terus berlari.
lantas aku disini,
melihat samar bayang mu, jauh.
Tentang Cinta Dan Mimpi Panjang
Aku menangisi hariku. Menangisi kesalahan yang hari ini telah ku perbuat. Bercinta dengan pacar-pacar ku. Tuhan, aku ingin berhenti melakukan ini semua. Untuk kesekian kalinya aku menangisi kesalahan yang tak kulakukan. Aku mulai asing dengean hari-hari ku. Dan tentu saja, diriku.
Aku tak pernah mengerti kenapa harus diriku yang dikaruniai kelebihan yang menurutku unik pada awalnya. Namun, hal yang berusaha ku kendalikan, merusak ku. Perlahan. Aku memiliki kepribadian ganda. Tak banyak yang tahu akan hal ini. Aku selalu ingin terjaga. Bagaimanapun keadaan ku. Aku berusaha tak melamun, berkonsentrasi penuh pada apa yang kualakukan. Karna suatu saat tanpa sadar, kepribadian ku yang lain muncul.
Aku menyayangi kepribadian itu sekaligus membencinya. Dia adalah diriku. Namun aku merasa asing dengannya. Namaku nixie, dan kepribadian ku yang lain menamainya nicky. Nicky adalah pribadi yang tegar, cuek, cerdas, penuh perhitungan dalam hal-hal yang dia kerjakan. Terlihat seperti pribadi yang menarik dan misterius. Namun satu yang kubenci darinya. Kegilaannya! Dia tak kan peduli hal itu salah atau benar jika menyukainya. Dia akan melakukannya apapun halangannya. Dan makhluk ini sangat menyukai hal-hal gila. Dia senang melanggar peraturan.
Dia membuatku terlihat berbeda. Cerdas, dan lebih dari orang lain. Dia adalah masa laluku yang terpendam. Dia adalah sifat gilaku yang kukekang. Namun pengaruhnya setara dengan diriku. Hingga tanpa sadar kepribadian itu muncul. Aku berusaha mengendalikannya. Mencoba. Namun satu yang kutahu. Segalanya telah terlambat.
Aku tahu dengan pasti, bahwa sex adalah kebutuhan dasar semua manusia. Namun aku tahu jelas dan pasti bahwa segalanya memiliki batasan-batasan tersendiri. Mungkin hanya prinsip yang mengakar pada alam bawah sadarku lah yang menolongku. Setidaknya aku masih dapat mempertahankan keperawananku hingga detik ini.
Aku menyukai lelaki yang salah. Batinku hari itu. Aku menyayanginya. Pada awalnya hanya menyayanginya. Hingga sampai suatu saat, dia meminta apa yang telah diminta lelaki lain padaku. Aku sedikit mengelak. Tak menjawab iya, atau tidak. Aku sudah tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Aku ingin berusaha menjadi diriku. Hanya diriku. Bukan masa laluku.
Dan entahlah. Kepribadian itu selalu muncul disaat aku benar-benar tidak menginginkannya, atau amat membutuhkannya. Aku tak mengerti. Dan sekali lagi aku melakukan kesalahn yang sama. Aku ahanya bisa menangisinya di dalam alam bawah sadarku. Kemunculannya bagaikan mimpi bagiku. Seolah aku bermimpi tentang diriku sendiri. Dan begitu ku terbangun, segalanya telah menjadi nyata.
Namun kali ini berbeda. Lelaki ini berkata jika apa yang dia minta adalah yang terakhir kalinya. Dia berkata seoloah dia benar-benar menghargaiku. Diriku. Bukan yang lain.
Kesalahanku adalah mendengarkan apa yang dia katakan dalam mimpi-mimpiku yang nyata. Aku mendengarkannya dan berharap kata-kata itu kan menjadi nyata. Namun apa yang dia katakan tak lebih janji-janji busuk yang lain. Dan aku. Tersiksa pada mimipi-mimpi panjang tentang cinta yang tak kan pernah nyata.
Kini aku terbangun dari mimpi-mimpi panjang ku yang menyakitkan. Aku ingin bangkit. Dari apa yang telah mengekang diriku. Aku ingin bebas dari diriku sendiri. Namun pada kenyataannya, bayang mimpi-mimpi nyata itu akan terus membayangiku selamanya.
Ponorogo, 27 September 2009
Wednesday, November 30, 2016
Let's Dream
Monday, August 3, 2015
For me, for you, for us
It's so long i didn't write for all of you. :)
And I do hope my write can inspired you to be a better person.
Kemarin ada beberapa comment positive tentang posting di blog ini.
I guess it's never wrong to write bout other people problems too.
So here I am.
Encourage you to be better. To be unique. To be YOU!
Pagi datang hari ini.
Namun tak bersama mentari.
Begitu juga malam, semalam.
Datang tanpa rembulan.
Aku termenung.
Duniaku gelap.
Lagi-lagi kehilangan cahaya.
Kali ini lilin cintaku hilang.
Setelah sebelumnya mimpi,
Dan banyak harapan.
Aku masih berjalan.
Terseok, tertatih.
Berjalan dan terjatuh.
Buta dan tuli.
Aku berhenti.
Sampai tanganmu datang.
Kau kah lilinku?
Bukan, aku lentera.
Aku tak akan mati.
Kau hanya harus memberiku sesuatu.
Apa itu?
Bahan bakarku, minyak ku.
Dan apa itu?
Hati dan waktu mu.
Dan aku akan disampingmu selamanya.
Aku mungkin lebih dekat dari apapun untukmu.
Aku tak pernah berbohong.
Dan mencintaimu.
Begitu mencintaimu tanpa apapun.
Kau begitu indah.
Siapakah engkau?
Aku Tuhanmu.
Maukah kau mencintaiku juga?
With love, -nix-
Thursday, April 11, 2013
Well, I'm Back!
Aku akhirnya balik ni! setelah mengalami perenungan diri sekian lama, akhirnya aku nemuin lagi passion yang dulu aku punya. I guess it means, my tips that i wrote, totally works! well. I already had my live back! hahahaha.
oh, aku lupa ya? nerusin cerita bersambung yang seharusnya aku terusin buat kalian semua. sorry - sorry, beneran lupa ni! it's okay! aku lagi work in a new project! new story! okay.
Jadi, just stay with me guys!
:D
Thursday, July 26, 2012
Langkah - langkah mengembalikan JATI DIRI
Tuesday, April 24, 2012
fotografi
beberapa hari terakhir ini gua sangat tertarik dengan fotografi
pertama - tama cuman iseng.
tapi setelah itu kayaknya aku ketagihan.
rasanya asik banget.
Monday, December 12, 2011
12.12.2011
that you think they understand you the most.
really want you to change your self, not except you like usual.
want you to become something else that not your self to be.
hurt?
yeah.
that's hurt
aku bener - bener speechless.
begitu dengar sendiri langsung dari orangnya.
meskipun cuman berbentuk sindiran.
tapi aneh aja rasanya.
sakit banget.
aku ampe nggak bisa ngomong langsung sama orangnya.
udahlah.aku nggak tau harus ngomong apa.
Thursday, November 3, 2011
biarkan
jika nanti aku terlelap
mka biarkan menari dalam senyap
aku,
kenangan,
kalian,
meski tampaknya penuh kaku
ku biarkan berliku
kesekian kalinya
dan kata.
tampak
tak berarti lagi.
Tuesday, July 12, 2011
review movie
judulnya 'A little called love'
gila! nunggu satu orang yang dia cintain selama bertahun - tahun.
aku dulu pernah ngelakuin hal yang sama.
tapi trus orangnya meninggal dunia.
huft.
sekarang aku punya satu cinta.
aku bakal nungguin orang itu juga sampe bisa ngebuka ke orang - orang yang dia sayangin,
tentang aku.
aku bakal nunggu orang itu bilang ke aku,
kalo dia bakal milikin aku selamanya.
bakal ada disamping aku, dan nikahin aku.
tapi dia bilang itu masih lama.
aku tau kok.
dia bilang, dia mau yang terbaik buat aku.
jadi aku bakal nugguin dia, sampe dia siap buat bilang apa yang aku tungguin selama ini.
aku udah nggak bisa lagi sayang sama orang lain selain dia.
aku tau, mungkin dia nggak sesempurna apa yang orang lain harepin.
tapi buatku, dia terlalu sempurna.
aku bakal nungguin saat dia dateng dan meluk aku.
saat itu,
jadi aku selalu inget kata - katanya yang bilang,
suatu saat nanti..
aku bakal inget terus.
Sunday, July 10, 2011
Satu Hari Bersama Rei
“Rei! Berani kamu ngelawan orang tua kamu sendiri?!”
“rei udah nggak peduli lagi sama orang yang nggak pernah peduli sama rei! Rei mau pergi.”
Aku udah nggak peduli sama orang tuaku. Mereka semua menyebalkan. Aku minggat dari rumah hari ini. Tentu saja dengan membawa semua kartu kredit orang tuaku.
Aku nggak ngerti mau jalan kemana. Jadi aku mulai mengunjungi mall, tempat karaoke, dan tempat hiburan yang lain. Aku lelah. Kaki ku menuntun ku ke sebuah taman yang indah. Taman bermain anak – anak. Dulu aku sering bermain disini waktu kecil. Aku duduk dan mulai melamunkan masa kecilku. Menggoyangkan kedua kaki ku layaknya yg sering ku lakukan waktu aku kecil. Terdiam.
-nix-
Sejak tadi aku memang hanya memperhatikan. Gadis ini kelihatan sedih. Tapi cantik sih. Hehehe. Rasanya aku belum pernah melihat gadis ini sebelumnya. Apa kutanyakan saja padanya.
“hi. Namaku adit.” Ujarku.
“kamu baru ya disini?” tanyaku.
Dan lagi – lagi tak ada respon. Gadis ini hanya diam saja. Seumur hidup baru pertama kali ada cewek yang ngacangin aku kalo ngomong. Nggak mungkin kan pesona kegantengan ku yang mirip sama yuusun personil SUJU ini terlewatkan begitu saja.
“hei!” skali lagi dengan sedikin sentakan ku kagetkan lamunannya.
-nix-
Aku tersentak dari lamunanku. Seorang yang tidak kukenal mengagetkanku. Huh. Siapa sih cowok ini. Ngagetin orang sembarangan. Sontak saja aku marah – marah.
“apa – apaan sih? Sembarangan aja ngagetin orang!” balasku dengan sedikit membentak.
“kamu aja yang dari tadi ku ajak ngomong nggak merhatiin. Kamu anak baru disini. Aku nggak pernah liat kamu. Makannya aku nanya kamu siapa.” Ujar cowok itu
“suka – suka aku lah mau duduk disini sampe kapan juga. Ini kan tempat umum.”ujarku ketus
“yaa yaa. Ogke. Terserah kamu. Ini memang tempat umum. Tapi wajar kan kalo aku mau tau. Aku adith. Nama kamu sapa?”
“iya sih. Ya udah deh. Maaf ya. Masalahnya aku tadi lagi suntuk malah kamu kagetin. Namaku rei.”
Lantas aku hanya melihatnya tersenyum memandangku.
-nix-
Aku tersenyum melihatnya bicara. Bisa ngomong juga ni cewek. Melihatku tersenyum. Dia mencoba memaksakan senyumnya untukku. Lantas aku tertawa panjang.
“udah – udah. Kalo lagi bener – bener suntuk nggak usah maksa ketawa. Jeleg tau! Cewek tu harusnya cantik.”
“emang sejeleg itu ia?” diiringi ekspresi mukanya yang cemberut.
“tu kan tambah jeleg.” Dan aku tertawa. “ daripada kamu cemberut, mending kamu ikut aku.” Ajakku
“ kemana?” Tanya rei padaku.
“ udah ikut aja! Nggak usah banyak Tanya. Yang penting kan seru!”jawabku.
Lantas aku mengajak nya ke tempat ku biasa nongkrong. Kebetulan disana sedang diadakan festival anime. Dan aku sangat menyukainya. Aku tak menyangka dia juga terlihat bahagia disini.
-nix-
Apa nama tempat ini. Apa nama acara ini. Seolah begitu banyak tanya di benakku. Aku belum pernah datang ke tempat seramai ini. Bersama seseorang yang baru saja kukenal. Tempat ini terlihat bahagia. Seperti festival musim panas waktu ayah mengajakku saat aku masih kecil dulu di jepang. Untuk pertama kalinya seumur hidupku aku merasa begitu bahagia bersama seseorang setelah sekian lama. Aku hampir lupa kapan terakhir kali aku merasakan hal seperti ini. Tertawa selepas – lepasnya. Bebas. Betapa aku telah lupa seperti apa dunia. Lantas aku tersenyum, berlari, dan tertawa. Mencoba segalanya.
“ makasih ya dith. Udah bawa aku ketempat seindah ini. Namanya festival anime ya. Aku baru tau.” Ujarku tulus.
“ha? Ini kan ada setaun sekali. Yang bener kamu baru pertama kali? Kamu juga nggak tau anime? Wah payah banget kamu. Berarti kamu belum tau dunia ini kayak gimana!” jelas adith bersemangat.
“yah, mau gimana lagi. Aku emang nggak pernah tau. Emang dunia kamu kayak gimana? Aku boleh nggak ngerasain lebih dari ini?” tanyaku polos
“ya jelas dunia ku sebagus dan seganteng wajahku laah!” kata adith mengeluarkan penyakit narsisnya.
“huek! Kalo gitu aku nggak jadi pengen tau aja lah! Kamu aja jelek kayak gitu.” Ujarku sambil tertawa.
“alah, gitu banget sih! Iya deh iya. Terserah kamu aja maunya gimana. Dibilangin nggak percaya.” Ujar adith.
Dan aku tertawa lagi.
-nix-
Entah kenapa melihatnya tertawa begitu indah. Hehe. Apa mungkin aku suka sama rei. Orang aku baru kenal sama rei. Mana mungkin langsung suka gitu aja.
Aku membelikannya sebuah gantungan kunci salah satu tokoh kartun di anime kesukaan ku. One piece. Aku membelikannya yang berbentuk robin.
Sedangkan dia membelikanku action figure nya tokoh utama bleach, ichigo. Dia bilang ini kenang – kenangan. Supaya kita saling mengingat seandainya suatu saat kita tidak dapat bertemu lagi. Apa maksudnya.
-nix-
“dith, bisa berhenti sejenak nggak. Aku pusing ni.” Ujarku perlahan. Damn aku benci banget kalo udah kayak gini. Kenapa sih harus kambuh sekarang.
“wah, payah ni. Cumin segini aja? Masa gitu aja udah capek. Ayo dikit lagi. Masih banyak lo stand yang belum kita lihat. Masa mau berhenti?” tanya adith
“bukan berhenti, cuman istirahat…”
Kata – kata ku terpotong olehku sendiri. Semua nya tiba – tiba saja samar. Hal terakhir yang kulihat adith yang meneriakkan namaku dan meminta tolong. Setelah itu semuanya gelap.
-nix-
“rei!” teriakku.
Aku menggendongnya.
Meminta tolong, menelpon ambulan. Menyuruh semua orang menyingkir. Ambulan datang dan aku mengantar rei kerumah sakit.
Aku melihat kartu identitasnya dan menemukan sejumlah kartu kredit, dan kartu asuransi kesehatan terkemuka.
“reinata nixiena hikaru..” ejaku. Nama yang indah. Ada apa dengannya. Entah mengapa aku hanya tak ingin kehilangan gadis ini sekarang.
-nix-
Aku merasa tenang dan nyaman di tempat ini. Lantas aku teringat mama dan papa. Lalu adith. Apakah aku boleh selamanya tinggal ditempat seindah ini. Tiba – tiba adith muncul di hadapanku dan tersenyum.
“kembalilah rei. Kalau kau bahagia disini, kembalilah dulu dan temui aku. Setelah itu kembalilah.” Ujar adith dan dia menghilang.
Setelah itu semuanya terlihat memudar dan aku terbangun. Ada adith disana, menggenggam tanganku. Papa dan mama menangis. Mereka terlihat akur sekarang. Aku tersenyum untuk mereka semua.
-nix-
“rei, udah lah. Jangan dipaksa lagi. Kan aku udah bilang. Jangan senyum kalo dipaksain. Jeleg tau! Harusnya cewek itu cantik.” Ucapku padanya sambil menahan rasa panas di kedua mataku. Aku tak boleh menangis di hadapannya.
Kenapa dia tidak bilang padaku, jika ini bisa jadi hari terakhirnya. Aku mungkin bisa saja mengajaknya ketempat yang lebih indah untuknya.
“iyah dith. Nggak bakal aku paksain lagi. Makasih ya dith. Tadi saat terindah di hidupku. Makasih robinnya. Bakalan kubawa kemana – mana. Tadi aku dibawa ketempat bagus banget. Aku pengen tinggal disana. Tapi aku mau bilang dulu sama adith” cerita rei panjang lebar.
“iyah. Udah. Nggak usah ngomong lagi. Istirahat aja. Rei ketemu sama mama papa nya rei iya? Mereka udah nunggu kamu dari tadi.” Ujarku lembut padanya.
“iyah. Mana mama sama papa? Tanya nya.
Lantas aku menjauh dari sisinya. Dan melihat senyum nya.
-nix-
“mah, pah, yang akur yah. Jangan berantem lagi. Rei sedih litany. Makannya tadi rei pergi dari rumah. Maafin rei ya mah? Pah?” pintaku.
“udah nak. Mama tau kamu nggak salah. Mama sama papa janji nggak bakal berantem lagi. Tapi kamu jangan pergi lagi ya nak. Mama sama papa sedih”
“rei kan nggak pernah pergi dari hatinya mama sama papa. Mama jangan sedih lah. Papa juga nggak boleh nangis kayak gitu.” Ujarku.
“iya sayang, papa nggak bakal nangis.”
“rei capek banget ma, pa, rei mau istirahat. Tapi rei mau ketemu adith dulu.boleh ya ma?” pintaku lirih.
“boleh sayang. Mama sama papa keluar dulu ya. Manggil adith buat kamu.”
Sejenak sepi dan aku melihat adith datang. Andai aku bisa lebih lama lagi bersamanya. Dan melihat indah dunianya. Andai. Namun mataku terasa sangat berat. Kepalaku sakit banget. Rasanya kayak mau pecah.
“dith. Temenin rei ya. Rei mau istirahat. Jangan pergi sampe rei tidur yah? Rei lelah banget.” Ujarku penuh harap
“iya rei. Adith nggak bakal pergi kemana – mana.” Jawab adith, lantas mengecup keningku lembut.
Kali ini aku tersenyum. Tulus. Dan menutup mataku penuh kebahagiaan. Aku merasakan damai. Dan pergi ketempat indah itu.
-nix-
Aku melihat senyum indah terakhirnya. Merasakan hembus nafas terakhirnya.
“Oyatsuminasai rei.” Bisikku.
Ucapan selamat tidur untuknya yang pertama dan terakhir kali. Aku meneteskan air mata, dan berharap bersamanya lebih lama lagi.
“ sayonara rei.” Bisikku lagi.
Dan aku melangkahkan kaki keluar kamar rumah sakit yang rei tempati. Rei tidur dengan damai dan pergi selamanya. Kanker otak membuatnya tak dapat bertahan lebih lama lagi. Hanya itu yang kutau dan ku dengar dari dokter yang merawatnya. Selebihnya, aku tak mengerti. Bahkan menyayanginya tak dapat merubah keaadaan bahwa aku tak mengerti satupun tentangnya. Reinata.
-nix-
Satu tahun kemudian, aku kembali ke taman tempat rei dan aku bertemu. Taman ini masih sama. Aku melihat kursi tempat rei duduk dan melihat seorang gadis duduk sambil mengayunkan kakinya. Aku tersentak dan mulai memperhatikan, aku seperti pernah melihat gadis ini. Ada gantungan kunci robin di hape nya. Dan wajahnya, rei..?
-nix-
awan, malaikatku?
“Awan,” ucapnya. Seolah mengetahui bahwa aku begitu bertanya – tanya tentang kehadirannya.
“Kamu siapa?” Tanyaku.
“Mungkin saja malaikatmu. Kalau kamu mempercayainya,” Jawabnya tenang. Seolah mengerti bahwa aku berharap dia adalah seorang malaikat. Seraya dia tersenyum penuh arti.
“Konyol! Mana mungkin ada malaikat kayak kamu?” Ejek ku. Kemudian bersambung dengan tawa lebarku.
“Kamu mungkin nggak akan percaya sekarang. Tapi tunggu aja. Suatu saat mungkin kamu akan menyesal jika mengetahui bahwa aku adalah malaikatmu. Malaikat adalah utusan Tuhan yang membantu makhluk yang Tuhan sayangi. Tapi dia hanya datang saat dibutuhkan, bukan disaat yang kita inginkan.” Jelasnya panjang.
“Buat apa aku nyeselin itu semua? Nggak penting tau.” Ujarku datar juga.
“Baiklah, dan namamu?”
“Aku? Nicky.”
Dan dari perkenalan ini lah, aku mendapatkan nomer telponnya, dan segalanya yang memudahkan ku untuk menghubunginya. Yah, setidaknya itu pendapatku. Pada kenyataannya, menghubunginya membutuhkan banyak kata yang dibaca ‘KESABARAN’. Dan lagi – lagi aku tak memilikinya.huft
Kau akan mulai berfikir kisah ini akan seperti diary panjang, yang seolah menceritakan kisah epic, sampai matinya tokoh utama. Maka jawabannya adalah ya. Dan tidak. Ya, karena ini mungkin akan mengisahkan kematianku. Tapi, hei! Aku bisa jadi bukan tokoh utamanya. Karna toh dari awal aku tak pantas mendapatkan gelar ‘Tokoh Utama’.
Aku akan memulai kisah baru setelah ini. Dan tentu saja masih lanjutan dari prologue diatas. Jika tidak bukan kisah bersambung bukan?
-nix-
Saturday, May 28, 2011
Waktu Aku Kabur,,
Saturday, May 21, 2011
my mom cheats with another man
Restart my Life
Without You Mam
I'm Seven Years old but i know that you had been cheat
ignore you now
from noon till night
I strike this shit , memory just turn all to fight
i track you from this window
i caught you kiss that man
dare to do that mother, the son still smile and said...
"I won't sad and share!"
" I got sisterto care!"
A Promises for being strong and not being adore (ful)
You turn to wise
But pain won't last
when every truth that burn all goodthings back to lies
I track you from this window
I caught you kiss that an
dare to do that mother, the son still smile and said...
Directions built all destructions
Couragious being a figher....I can stand....I will stand!!....
Don't Stop Me now
Don't hug me now
I lost my side for loving you now
Turn green to brown
Look what I've done
well I pt the lyrics on and now....
Sunday, May 15, 2011
Awan, Malaikatku?
Prologue
Senja masih menyisir langit dengan manis. Sedang aku masih terduduk menatap jauh langit tak bertepi.
“Huft. Aku bosan malaikatku. Sepi nggak ada kamu. Kenapa si tiap senja kamu ikut beranjak.” Gerutuku.
Aku segera beranjak menuju motor kesayanganku. Aku mulai mencari telfon genggamku. Mencari nomer telfon yang kumau. Dan mulai menekan tombol dial.
“Damn! Sibuk terus. Kenapa sih kalo mulai malam dia selalu ilang gini. Telpon pasti dimatiin.”
Dengan segera kunaiki motor roda tiga modifanku. Aku melajukan motorku sekuat – kuatnya. Berharap bisa mengejar segalanya, ku percepat lajuku. Namun sepertinya usahaku sia – sia. Aku tak bisa menemukan apapun. Segera saja aku bertambah kesal dan mulai menyumpah – nyumpah. Malam ini masih seperti malam biasanya. Aku masih tak dapat menemukannya.
Aku pun tak habis pikir kenapa tiba – tiba aku menjadi terobsesi dengannya. Padahal pertemuan kita cukup singkat. Malahan kita hanya sesekali bertemu. Tapi rasanya satu pertemuan itu telah merubah duniaku. Saat itu..
-nIx-
Pantai ini tampak terlalu senyap untuk ku. Tapi setidaknya ini yang kubutuhkan. Aku memarkirkan motor kesayanganku dan melangkah menyisiri pantai ini. Tak ada lagi yang mungkin kupikirkan. Aku mulai tak ingin hidup lagi. Bahkan sepertinya semuanya begitu menyakitkan. Aku mulai membenci segalanya.
Seolah hanya uang yang ada di dalam kepala orang tuaaku. Aku telah bosan dengan kehidupanku sendiri. Andai saja aku bisa, mungkin aku telah menyusul semua orang yang kucintai, pergi begitu saja meninggalkan semua fata morgana dunia ini.
Ombak sore ini terlihat begitu bebas, bagaimanakah rasanya mengikuti ombak yang sebebas ini. Kumajukan diriku, begitu dekat dengan ombak – ombak yang semakin membesar. Seolah tangan – tangan kecil mereka menyeka wajahku lembut. Aku menyukainya. Berdiri di tepian pantai seperti ini. Di puncaknya yang tinggi. Begitu dekat dengan ombak – ombak ku yang begitu indah menari. Seolah begitu dekat dengan kebebasan. Sendiri.
Cowok itu begitu saja menarikku dengan tangkas dan diam. Selangkah lagi mungkin aku akan jatuh ke laut bebas, seperti yang mungkin saja kuinginkan. Biasanya tak seperti itu, entah mengapa kali ini batasku hilang. Dan orang itu hanya menatap kedua mataku seolah memohon tak melakukan nya lagi. Dalam diam dia menyeka wajah ku, menyibak rambutku, dan berkata lirih.
“Aku tau kau baik – baik saja.”
Datar, namun seolah begitu yakin dan mengerti dengan apa yang dia ucapkan.
“Kau tak tau apa – apa!” Teriakku.
Aku menangis. Dan lagi – lagi dia hanya diam saja melihatku. Matanya menyiratkan banyak hal, namun wajahnya begitu datar. Dia melihatku menangis. Dia memelukku hangat. Menenangkan tangisku tanpa satu katapun. Aku terkesima sejenak, dan menatapnya. Yang kulihat hanya rasa hangat. Aku tak tau siapa orang ini. Malaikatkah?
-nIx-
to be continued
Sayap – sayap yang kunanti
Nixie memandang nanar kedua orang tuanya. Dia sendirian sekarang dirumah. Padahal anak ini baru berumur tiga tahun.
Seharusnya aku tak mengerti dan tak mau mengerti. Namun takdir berkata lain, keabnormalanku membuatku mengerti semuanya. Meskipun masih secara mendasar. Namun apakah aku akan memahami segalanya tepat pada waktunya nanti saat aku sudah besar. Otakku penuh tanda tanya. Dan segalanya mulai sunyi.
“Damn!!” teriak ku.
Aku masih tak mengerti. Apa didunia ini tidak ada kesempurnaan. Orang lain selalu menganggapku sempurna. Tapi yang kutahu semua kesempurnaan ku palsu.
Tengukku bergetar. Aku ingin menangis begitu saja. Tapi tertahan. Aku hanya terdiam dalam pelukan sosok itu. Sosok yang begitu ku kagumi.
Andai saja sosoknya milikku. Mungkin pandanganku tentang kesempurnaan akan sedikit berbeda. Namun sekali lagi bahkan bayangnya pun seolah bukan untuk ku.
“sudah kah sedihnya manis? Kakak rindu senyum mu.”
Ucap kak sofyan, dan mengusap lembut kepalaku. Aku mendongak. Memperlihatkan cengiran terbesarku, dan tersenyum padanya. Setelah membalas senyumanku, memelukku erat sekali lagi, kak sofyan menggandengku.
Semuanya tanpa kata. Namun pesan nya yang penuh sayang selalu tersampaikan padaku. Kak sofyan menyayangiku, menghargai kesempurnaan sekaligus kekuranganku, selalu ada saat ku membutuhkannya.
Namun entah kenapa kami tak pernah bisa saling memilikiku. Imajiku tentangnya tak terbatas. Dia sosok malaikat impianku. Dan hadir begitu saja dalam hidupku. Seolah Tuhan begitu baik padaku.
Jarak kami terlampau jauh. Sepuluh tahun. Tapi aku begitu menyayanginya. Mengaguminya.
“yuk, belajar lagi. Jangan sedih lagi ya? Kakak nanti sedih juga liatnya. Nggak mau kakak sedih kan?”
Aku menggeleng kuat. Dan sosok itu tersenyum padaku. Aku bahagia.
Sedang tahun dan waktu berlalu begitu cepat. Aku semakin menyadari apa yang terjadi dalam hidupku. Tingkat depresiku semakin tinggi. Namun sosok itu masih menemaniku. Tak pernah beranjak. Sesekali berbicara padaku, menghibur tangisku. Aku melihat dunia dari kasih sayangnya.
“Ni nggak mau tau! Kakak selalu nemenin ni kapanpun ni mau! Ni nggak mau tau kalo kakak beda dunia! Na bohong sama ni! Ni ngeliat kakak sama kayak yang laen! Na nggak tau apa – apa!” teriakku murung. Sosok itu tersenyum murung memandangku penuh arti. Dia mendengar semuanya. Dia mengetahui segala yang ku bicarakan.
“kamu harus sadar! Itu kelebihan kamu ni! Kamu harus bisa bedain! Nggak selamanya kamu hidup kayak gini! Realistis ni! Kalian nggak bisa idup bersama!” debat na lagi.
“kalo kakak beda dunia sama ni, kenapa na juga bisa liat? Kenapa na juga tau!” teriakku
“na udah bilang! Na kayak kamu! Sadar ni! Kamu emang dikaruniai buat bisa ngeliat dunia mereka, tapi nggak buat hidup bareng mereka. Kita beda dunia. Kamu harus ngehargain itu. Tanya sendiri sama kakakmu kalo nggak percaya.” Tantang na.
Aku mulai memandang sosok itu penuh tanya. Ia tersenyum murung dan mengangguk. Mengiyakan apa yang na katakan. Aku tak siap menerimanya. Bahwa sosok itu bukan milikku. Tatapku kosong. Tubuhku bergetar. Aku kehilangan. Kehilangan yang tak seharusnya. Seharusnya aku tak pernah memahami segalanya. Aku ingin menyesali kelebihanku. Tapi aku tak pernah diajari kata menyesal.
Sosok itu mulai berbisik padaku. Bahwa aku telah dewasa dan seharusnya tahu segalanya. Bahwa sudah waktunya dia pergi. Aku ingin merengkuhnya seperti dulu. Namun aku mengerti, tak seharunya kulakukan itu. Na merengkuh tubuhku dan berkata bahwa na akan menjagaku saat kak sofyan tidak ada.
“kakak nggak beneran pergi. Kakak cuman nggak mau kamu ngeliat apa yang seharusnya nggak kamu liat. Kakak bakal tetep ada disamping kamu kok. Kalau kakak pergi nanti, kamu nggak bisa ngeliat yang kayak kakak lagi. Tapi kamu tetep bisa ngerasain kalau kakak ada disamping kamu. Jangan sedih lagi. Kakak nggak suka. Suatu saat nixie bakal dapet malaikat beneran. Kakak bakal nunggu sampai malaikatnya dek dateng. Kakak sayang kamu.”
Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah diucapnya. Dan hari itu pertama kalinya aku menangis setelah sekian lama. Air mataku mengalir begitu saja. Tubuhku bergetar hebat. Aku tak mau mengerti. Gumamku berkali – kali.
Satu tahun berlalu. Aku duduk di atas kasur rumah sakit. Entah kenapa semakin banyak masalah yang kudapat tubuhku tak dapat menerimanya. Aku semakin sering keluar masuk rumah sakit. Namun keadaan ku sedikit terhibur dengan adanya internet,laptop, dan sahabat kesayanganku.
Wahyu qsruh : sakit lagi ia?
Nixie : ia ne. humb.
Wahyu qsruh : jangan sakit lagi ia? Ntar q sedih klo kmu sakit
Nixie : humb. Iah diusahain.
Orang ini, sikapnya begitu tidak asing bagiku. Aku merasa nyaman. Entahlah kita bersahabat baik beberapa bulan yang lalu. Namun entah mengapa aku merasa telah mengenalnya begitu lama. Entah mengapa aku begitu menyayanginya. Menyayanginya begitu saja.
Dan entah mengapa, semakin aku menyayangi orang ini semakin jarang aku merasakan kehadiran kak sofyan. Namun aku merasa tak terganggu dengan hal itu. Ah, jangan – jangan orang ini…
Epilogue,,
Beberapa bulan kemudian rian memintaku menjadi kekasihnya. Aku semakin yakin akan kehadiran orang ini. Bagiku sosok rian cukup untuk menggantikan segalanya. Cukup bagiku untuk menjadi alasan ku bangkit sekali lagi. Untuk mencoba percaya sekali lagi. Untuk sekali lagi memahami hidup. Dan meyakinkan diriku bahwa dialah malaikat yang selama ini kutunggu…
Thursday, April 28, 2011
rumah sakit agy,, rumah sakit agy,,,
plies.ia
sudah keberapa kalinya saya memasuki rumah sakit yang sama sodara - sodara ??!!
saya kan bosan!!!
you know?
how it feel when u get cough,,
say it for a month,
and doctor already said that you hurt your lungs..
you maybe said like me.
'i thought it's just my bronkhitis'
but the real it more,,
i feel suck.
for being in hospital for a long time
it's already a week..
but thanks my boy friend, an my friends..came and see me.
i almost feel that it will be the most bored holiday in my whole life..
but not really..
this blog already become a diary though.
even i start it with another thing,,
hhe
:D